Ketidakadilan Gender Dominan di Perdesaan

KUPANG--MI: Meskipun gerakan kesetaraan gender sudah terdengar dimana-mana, perempuan di Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT masih diberlakukan tidak adil.

Ketidakadilan tersebut sejalan dengan pencitraan sosial di masyarakat yang memosisikan perempuan seolah-olah hanya terkurung dalam wilayah domestik. Dengan demikian, mereka tidak bisa memasuki wilayah publik. Seperti di desa-desa di Kecamatan di Adonara Barat, perempuan melakukan pekerjaan berat di sawah dan di ladang, yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki.

Temuan itu terdapat di 16 desa yang menjadi sasaran proyek Komponen Penguatan Masyarakat Sipil (Civil Society Strengthening Component). Proyek ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk memperbaiki kualitas partisipasinya dalam hal suara, akses, dan kontrol dalam pembangunan.

Hal itu mengemuka dalam seminar bertajuk 'Membangun Kapasitas Masyarakat Menuju Peningkatan Partisipasi Dalam Pembangunan' yang digelar Oxfam Great Britain bersama Australia Nusa Tenggara Assistance for Regional Autonomy (Antara) di Kupang, Jumat (16/7). Seminar itu bertujuan mencari solusi mengenai persoalan yang menghambat partisipasi perempuan dalam
pembangunan.

Dosen Universitas Widya Mandiri Kupang Marianus Kleden yang berbicara pada seminar tersebut mengatakan, dalam mengolah kebun, peran laki-laki hanya terlihat pada pembukaan kebun baru, tetapi selanjutnya penanaman, penyaingan, pemanenan, dan penjualan hasil, dilakukan oleh perempuan.

Hal yang sama juga berlaku bagi pekerjaan nelayan. Penangkapan ikan di laut dilakukan oleh laki-laki, tetapi tugas selanjutnya seperti pembersihan, pengawetan sampai penjualan di pasar, tetap dilakukan perempuan.

"Dalam perkembangan gender moderen, wilayah publik dipandang lebih prestisius. Karena itu hendaknya dilakukan pembagian peran lebih adil dan berimbang antara wilayah publik dan domestik untuk laki-laki dan perempuan," kata Marianus.

Dia mengatakan, Adonara memiliki ungkapan adat yang semakin kentara menekan perempuan untuk masuk ke wilayah publik. Misalnya, ungkapan 'laki-laki menuntut ilmu yang tinggi untuk bekal mencari nafkah, sementara perempuan harus tinggal di rumah'.

Di sisi lain, konsep gender yang awalnya berasal dari dunia barat, sering diimposisikan salah di wilayah perdesaan. Sejumlah temuan seperti perempuan tidak boleh makan bersama laki-laki di meja makan, dan tidak punya hak suara dalam musyawarah adat.

"Perempuan Asia dan Afrika malah mengalami dua kali ketidakadilan yaitu gender dan rasial," tambahnya. Akan tetapi, di wilayah perkotaan di Indonesia, kata Dia, kesetaraan gender
sangat terasa. Meski begitu masih ada sedikit jomplang dalam birokrasi dan politik.

Mesakh Makoni dari Biro Pemberdayaan Perempuan Setda NTT menambahkan, perbedaan peran perempuan dan laki-laku membuat banyak perempuan NTT tidak bisa membaca dan menulis.

"Ada banyak perempuan yang tidak berpendidikan, dan kualitas hidupnya rendah," katanya. Kondisi ini membuat perempuan kian tertekan. Pengetahuan mereka tentang kesehatan sangat rendah. "NTT didominasi budaya patriarki yang menomorduakan perempuan," katanya. (PO/X-11)